MASIHMENERIMA PINDAHAN PONDOK PESANTREN HIDAYATUNNAJAH HIDAYATUNNAJAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL PUTRA - PUTRI. SEKRETARIAT . Pesantren Islam Hidayatunnajah. Kertasari Pebayuran bekasi - Jawa Barat - Indonesia. Telp. (021) 8910266, 89150467. Fax. (021) 89150267. Contact Person : Ustadz Abu Islam Imanuddin, Lc (mudir) Ustadz
Memasukitahun ajaran baru 2016/2017, Pondok Pesantren Fathan Mubina menerima sekitar 196 santri baru yang terdiri dari 150 santri Kelas I SMP putra dan putri, serta 46 santri kelas I'dadi (kelas intensif) putra dan putri.
Pesantrentidak menerima siswa pindahan. Tata Tertib Santri Pondok Pesantren Tapak Sunan. Jika diterima bersekolah di pondok pesantren ini, para santri diwajibkan mengikuti segala peraturan dan tata tertib yang telah ditetapkan oleh pesantren.
Semuaanak beliau yang setelah dimintai ijin untuk pindah rumah dan menetap di pondok memberikan dukungan dan dorongan, hati beliau merasa lega. sebanyak 18 siswa tersebut tiap hari menerima pelajaran dengan duduk di atas lantai kelas dan beralasakan tikar. Proses pembelajaran sepanjang hari yang seperti itu, tidak menurunkan semangat
MataKitaco, Enrekang - Setelah melewati proses panjang, SMP Muhamamdiyah Cece Enrekang resmi menjadi pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Boording School. Kami (03/10/2019). Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Boording School ini merupakan pesantren pertama yang dimiliki muhammadiyah di Kabupaten Enrekang. Keberhasilan pembangunan pesantren ini dibeberkan oleh Nuraini. Menurutnya bantuan dari
Mengembangkanbudaya madrasah yang kondusif dan berkarakter yang mencakup nilai-nilai islami, jujur, disiplin, kerja keras, mandiri, dan bertanggung jawab. Apakah masih menerima siswa pindahan untuk kelas 3 sd, tahun ajaran 2019-2020? Yayu. Februari 6, 2019. Jadwal Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren; Lembaga Pendidikan Islam
Suratini menjadi dokumen yang membuktikan bahwa siswa tersebut sudah keluar dari sekolah asal, dan siap mendaftar di sekolah baru sesuai prosedur yang berlaku. Contoh Surat Keterangan Pindah Sekolah Terbaru Surat keterangan pindah sekolah selalu dilengkapi dengan data-data siswa dan orang-tuanya, serta sekilas data sekolah tujuan.
PondokPesantren Tahfizhil Qur'an Nurjamilah Daru Tartila telah membuka pendaftaran Santri/Santriyah calon peserta didik baru untuk menjadi generasi Islam Qur'any. Yaitu generasi yang tidak hanya mengaji (membaca Al-Qur'an) tapi juga hafal dan mengkaji (tilawatan, hifzhon, fahman, wa tahbiqon). Hanya Menerima kelas : a. Pindahan Naik
BerandaPONDOK PESANTREN NURUL FIRDAUS FULL BEASISWA SMP/SMK KESEHATAN DAN MESANTREN DI PONPES Mewakili dari daerah tertentu (Kecamatan atau Kabupaten atau Provinsi) yang belum terdaftar sebagai siswa/santri di Ponpes Nurul Firdaus sesuai jumlah kuota yang ditentukan. Menerima Siswa/Santri Baru/Pindahan, Info/Pendaftaran ke Owner: Dr
Pertanyaanpertanyaan yang sering ditanyakan seputar pondok dan pendaftaran. Mohon maaf kami tidak menerima siswa pindahan dari sekolah/pondok lain ke kelas 8/9 SMP dan 11/12 MA, kecuali bersedia ikut masuk mulai kelas 7 SMP atau 10 MA. Ya. Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung adalah pondok alumni Gontor, tetapi tidak mengikuti
BAHK1C.
SUBANG-Pondok Pesantren Darul Falah Desa Cimanggu kecamatan Cisalak Kabupaten Subang masih membuka kesempatan bagi pelajar tingkat SMP atau yang akan memasuki jenjang SMP yang belum sempat mendaftar atau gagal mengikuti PPDB sistem zonasi. Yayasan Ponpes Darul Falah Ustad Ridwan Hartiwan, mengatakan pihaknya sengaja masih membuka kesempatan bagi pelajar yang ingin pindah sekolah dengan berbagai alasan atau Drop Out dari sekolah sebelumnya. âSampai sejauh ini masih banyak telepon melalui nomor pondok pesantren yang ingin memindahkan anaknya dengan berbagai alasan terutama perpindahan dari jenjang SMP di kelas 8 contohnya, kami akan berusaha p para orang tua membantu memberi solusi pendidikan khususnya bagi yang ingin pindah sekolah tanpa uang bangunan, cukup uang bulanan untuk makan dan pendidikan,â ungkapnya. Ponpes Darul Falah Buka Kelas Khusus Pasca SMA/SMK Perdalam Ilmu Agama Kyai Ridwan juga menambahkan jenjang pendidikan di pesantren nya dimulai dari tingkat SMP, SMK, hingga program maâhadiyah 1 tahun pasca pendidikan SMA. âBagi yang belum melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi atau menambah pengetahuan setelah tamat belajar di tingkat SMA kami membuka kesempatan untuk dalami ilmu agama dengan belajar al-quran, Al Hadits dan kitab-kitab kuning, Dzikir lebih mendalam atau juga mempelajari bahasa Arab untuk komunikasi dan memahami al-qurâanul Karim,â pungkasnya. Penerimaan untuk gelombang kedua ini akan ditutup pada tanggal 27 September 2019 dengan target awal pendidikan pada awal bulan Agustus 2019,âProgram maâhadiah kami hanya menerima 10 orang saja karena keterbatasan fasilitas, sementara untuk SMP pindahan kami akan menerima untuk satu kelas saja yang berjumlah 25 orang,â pungkasnya. Selain Belajar agama khusus kelas Maâhadiyah ini diberikan latihan keterampilan sesuai bakatnya masing-masing seperti menjahit, komputer dan praktek mengajar, dan lain sebagainya. Nomor yang bisa dihubungi untuk program ini adalah 082217381975, selama 24 Jam.*
BANGSALSARI, ââ¬â Pekan ini, setidaknya ada 18 SMP negeri yang mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka PTM. Meski telah kembali masuk sekolah, namun kebijakan tersebut belum mampu membendung eksodus siswa. Karena dampak dari pembelajaran daring sebelumnya, banyak siswa yang telanjur memutuskan pindah ke pondok pesantren ponpes. Bahkan, hampir setiap sekolah ada yang pindah ke ponpes. Jika sebelumnya lima siswa SMPN 1 Tanggul memilih mondok, kali ini siswa SMPN 1 Bangsalsari juga menyusul pindah ke pesantren. ââ¬ÅAlasannya sama, karena mereka sudah bosan belajar daring dari rumah. Sehingga banyak orang tua yang memindahkan anaknya dari sekolah negeri,ââ¬Â ujar Hamam, Kepala SMPN 1 Bangsalsari. Menurutnya, di lembaganya ada dua siswa yang sudah keluar dan memilih pindah ke pondok pesantren. Mereka mengaku pindah ke ponpes karena ingin belajar dan berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Di sekolah lain, SMPN 1 Panti kondisinya juga sama. Di sekolah ini ada dua siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Hamam mengaku, pihak sekolah tidak bisa melarang ketika ada siswa yang mengundurkan diri. Apalagi, alasan orang tua, anaknya sudah lama tidak sekolah. Sebab, selama masa belajar di rumah, siswa kebanyakan justru bermain. ââ¬ÅSehingga orang tua dan guru juga tidak bisa mengontrol,ââ¬Â pungkas pria yang juga Plt Kepala SMPN 1 Panti tersebut. Di kecamatan lain, kondisinya juga serupa. Di SMPN 2 Ambulu juga ada dua siswa yang pindah ke ponpes. Sementara, SMPN 1 Wuluhan ada satu siswa yang pindah. Alasannya masih sama, karena sekolah negeri tidak segera melakukan PTM. ââ¬ÅSementara, di SMPN 2 Puger juga ada dua siswa yang berhenti,ââ¬Â kata Agus Siswanto, Kepala SMPN 2 Ambulu. Sama dengan sebelumnya, di tiga lembaga ini pihak sekolah juga tidak bisa menghentikan saat orang tua meminta surat keterangan pindah sekolah. Sebab, menurut orang tua siswa, anaknya tidak belajar secara optimal selama proses pembelajaran daring. ââ¬ÅKata orang tua, siswa bukannya belajar, tapi justru bermain game,ââ¬Â tutur Agus, yang merangkap sebagai Plt Kepala SMPN 1 Wuluhan dan Plt Kepala SMPN 2 Puger ini. Sementara itu, di SMPN 2 Balung ada empat siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Mereka langsung diantar orang tua saat meminta surat keterangan. Di SMPN 2 Wuluhan juga sama. Ada empat siswa yang mengundurkan diri. Sementara, di SMPN 1 Jenggawah yang mengundurkan diri ada dua siswa. ââ¬ÅHal ini karena sekolah negeri masih belum melakukan PTM,ââ¬Â jelas Sodik, Kepala SMPN 2 Wuluhan. Reporter Jumaââ¬â¢i Fotografer Jumaââ¬â¢i Editor Mahrus Sholih BANGSALSARI, ââ¬â Pekan ini, setidaknya ada 18 SMP negeri yang mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka PTM. Meski telah kembali masuk sekolah, namun kebijakan tersebut belum mampu membendung eksodus siswa. Karena dampak dari pembelajaran daring sebelumnya, banyak siswa yang telanjur memutuskan pindah ke pondok pesantren ponpes. Bahkan, hampir setiap sekolah ada yang pindah ke ponpes. Jika sebelumnya lima siswa SMPN 1 Tanggul memilih mondok, kali ini siswa SMPN 1 Bangsalsari juga menyusul pindah ke pesantren. ââ¬ÅAlasannya sama, karena mereka sudah bosan belajar daring dari rumah. Sehingga banyak orang tua yang memindahkan anaknya dari sekolah negeri,ââ¬Â ujar Hamam, Kepala SMPN 1 Bangsalsari. Menurutnya, di lembaganya ada dua siswa yang sudah keluar dan memilih pindah ke pondok pesantren. Mereka mengaku pindah ke ponpes karena ingin belajar dan berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Di sekolah lain, SMPN 1 Panti kondisinya juga sama. Di sekolah ini ada dua siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Hamam mengaku, pihak sekolah tidak bisa melarang ketika ada siswa yang mengundurkan diri. Apalagi, alasan orang tua, anaknya sudah lama tidak sekolah. Sebab, selama masa belajar di rumah, siswa kebanyakan justru bermain. ââ¬ÅSehingga orang tua dan guru juga tidak bisa mengontrol,ââ¬Â pungkas pria yang juga Plt Kepala SMPN 1 Panti tersebut. Di kecamatan lain, kondisinya juga serupa. Di SMPN 2 Ambulu juga ada dua siswa yang pindah ke ponpes. Sementara, SMPN 1 Wuluhan ada satu siswa yang pindah. Alasannya masih sama, karena sekolah negeri tidak segera melakukan PTM. ââ¬ÅSementara, di SMPN 2 Puger juga ada dua siswa yang berhenti,ââ¬Â kata Agus Siswanto, Kepala SMPN 2 Ambulu. Sama dengan sebelumnya, di tiga lembaga ini pihak sekolah juga tidak bisa menghentikan saat orang tua meminta surat keterangan pindah sekolah. Sebab, menurut orang tua siswa, anaknya tidak belajar secara optimal selama proses pembelajaran daring. ââ¬ÅKata orang tua, siswa bukannya belajar, tapi justru bermain game,ââ¬Â tutur Agus, yang merangkap sebagai Plt Kepala SMPN 1 Wuluhan dan Plt Kepala SMPN 2 Puger ini. Sementara itu, di SMPN 2 Balung ada empat siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Mereka langsung diantar orang tua saat meminta surat keterangan. Di SMPN 2 Wuluhan juga sama. Ada empat siswa yang mengundurkan diri. Sementara, di SMPN 1 Jenggawah yang mengundurkan diri ada dua siswa. ââ¬ÅHal ini karena sekolah negeri masih belum melakukan PTM,ââ¬Â jelas Sodik, Kepala SMPN 2 Wuluhan. Reporter Jumaââ¬â¢i Fotografer Jumaââ¬â¢i Editor Mahrus Sholih BANGSALSARI, ââ¬â Pekan ini, setidaknya ada 18 SMP negeri yang mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka PTM. Meski telah kembali masuk sekolah, namun kebijakan tersebut belum mampu membendung eksodus siswa. Karena dampak dari pembelajaran daring sebelumnya, banyak siswa yang telanjur memutuskan pindah ke pondok pesantren ponpes. Bahkan, hampir setiap sekolah ada yang pindah ke ponpes. Jika sebelumnya lima siswa SMPN 1 Tanggul memilih mondok, kali ini siswa SMPN 1 Bangsalsari juga menyusul pindah ke pesantren. ââ¬ÅAlasannya sama, karena mereka sudah bosan belajar daring dari rumah. Sehingga banyak orang tua yang memindahkan anaknya dari sekolah negeri,ââ¬Â ujar Hamam, Kepala SMPN 1 Bangsalsari. Menurutnya, di lembaganya ada dua siswa yang sudah keluar dan memilih pindah ke pondok pesantren. Mereka mengaku pindah ke ponpes karena ingin belajar dan berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Di sekolah lain, SMPN 1 Panti kondisinya juga sama. Di sekolah ini ada dua siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Hamam mengaku, pihak sekolah tidak bisa melarang ketika ada siswa yang mengundurkan diri. Apalagi, alasan orang tua, anaknya sudah lama tidak sekolah. Sebab, selama masa belajar di rumah, siswa kebanyakan justru bermain. ââ¬ÅSehingga orang tua dan guru juga tidak bisa mengontrol,ââ¬Â pungkas pria yang juga Plt Kepala SMPN 1 Panti tersebut. Di kecamatan lain, kondisinya juga serupa. Di SMPN 2 Ambulu juga ada dua siswa yang pindah ke ponpes. Sementara, SMPN 1 Wuluhan ada satu siswa yang pindah. Alasannya masih sama, karena sekolah negeri tidak segera melakukan PTM. ââ¬ÅSementara, di SMPN 2 Puger juga ada dua siswa yang berhenti,ââ¬Â kata Agus Siswanto, Kepala SMPN 2 Ambulu. Sama dengan sebelumnya, di tiga lembaga ini pihak sekolah juga tidak bisa menghentikan saat orang tua meminta surat keterangan pindah sekolah. Sebab, menurut orang tua siswa, anaknya tidak belajar secara optimal selama proses pembelajaran daring. ââ¬ÅKata orang tua, siswa bukannya belajar, tapi justru bermain game,ââ¬Â tutur Agus, yang merangkap sebagai Plt Kepala SMPN 1 Wuluhan dan Plt Kepala SMPN 2 Puger ini. Sementara itu, di SMPN 2 Balung ada empat siswa yang berhenti dan memilih pindah ke ponpes. Mereka langsung diantar orang tua saat meminta surat keterangan. Di SMPN 2 Wuluhan juga sama. Ada empat siswa yang mengundurkan diri. Sementara, di SMPN 1 Jenggawah yang mengundurkan diri ada dua siswa. ââ¬ÅHal ini karena sekolah negeri masih belum melakukan PTM,ââ¬Â jelas Sodik, Kepala SMPN 2 Wuluhan. Reporter Jumaââ¬â¢i Fotografer Jumaââ¬â¢i Editor Mahrus Sholih